Degradasi Kesabaran di Djogja Pasca Reformasi

Sepenggal kejadian berikut ini cukup mengagetkan setelah beberapa tahun meninggalkan kota Djogja dan kemudian pulang kandang lagi tahun 2006.

Yogyakarta terlihat benar-benar telah “terjual” habis dan laris manis. Banyak “benda” yang terjual termasuk kesabaran masyarakatnya. Ritme kehidupan metropolitan sangat tersurat jelas dalam denyut kehidupan di jalanan kota Yogyakarta.

Volume kendaraan dengan plat non-AB benar-benar luar biasa jumlahnya dan etika di jalan benar-benar luar biasa kacaunya karena budaya dan etika di jalan versi non-AB telah mereka implementasikan di Yogyakarta.

Pagi hari pukul 06:30 pada tanggal 3 Maret 2012 saya melewati jalan menurun dari Selatan melewati Perempatan Badran untuk menuju ke arah Bumijo. Saya berhenti karena lampu merah bangjo masih menyala. Beberapa detik kemudian lampu hijau menyala dan saya mulai memacu kendaraan tetapi apa yang terjadi adalah saya harus menginjak rem mendadak karena meskipun lampu bangjo dari arah timur sudah merah tetapi masih banyak mobil dan motor yang terus saja melaju ke arah utara sehingga terjadi kemacetan di tengah-tengah perempatan tersebut.

Kondisi macet yang diiringi gerimis serta hawa dingin ternyata tidak membuat dingin isi kepala mayoritas pengendara sepeda motor yang terjebak macet. Gemuruh gas dan klakson motor yang luar biasa riuh terdengar gegap gempita karena motor salah satu pengendara berhenti kurang dari 3 detik lantaran memberi jarak dengan mobil di depannya yang mulai bergerak maju.

Pada saat itu saya perhatikan dengan sungguh-sungguh dan memang benar dugaan saya bahwa kendaraan yang menyalakan klakson secara berapi-api mayoritas adalah plat non-AB.

Djogja payu laris manis ning remuk kutha-ne. Remuk njaba njero.

Advertisements
This entry was posted in News. Bookmark the permalink.