Taksi di Djogja

Malam yang cerah tepat malem Siji Sura November 2011, aku dan mbokne serta ragilku pulang dari njagong manten di Balai Shinta, Mandala Bhakti Wanitatama. Kami nyegat taksi dan agak kaget karena supir taksi terlihat nekat muter balik di depan Balai Shinta dan ternyata benar bahwa setelah pintu taksi dibuka dan kami masuk ke dalam mobil maka yang terdengar adalah umpatan tajam dari sopir taksi.

Sopir taksi tersebut merasa sangat kecewa dengan tarif parkir yang sangat murah di Djogjakarta dan padatnya lalulintas di kota Djogjakarta. Sudah 10 tahun lebih sopir taksi yang lahir dan besar di Medan itu harus tinggal di Djogja karena menikah dengan wanita Djogja. Sopir itu adalah lulusan D3 UGM yang sebenarnya memiliki wawasan yang luas dan terlihat sangat tegas ketika berbicara.

Btw, Ketika saya dulu sering berada di Jakarta saya sempat mendapatkan cerita sekaligus fakta bahwa sopir-sopir taksi dari Medan sangat dihindari oleh para penumpang. Kabar yang lebih aneh lagi adalah adanya sebuah perusahaan taksi yang cukup besar di Jakarta yang tidak mempekerjakan orang Batak sama sekali. Alasan yang pernah saya dengar sendiri ketika bertanya kepada sopir-sopir taksi di Jakarta adalah karena derajad temperamental dan budaya kerja yang terbukti sangat berbeda dengan etnis lain.

Sebagai Wong Djogja yang lahir, besar dan tinggal di Djogja, kami sangat-sangat berharap agar warga asli Djogja TIDAK berakhir seperti warga Betawi di Jakarta. Kebijakan pemerintah lokal Djogja dan Keraton sangat diperlukan untuk melindungi etnis yang nenek moyangnya diyakini menjadi konseptor dan arsitek candi Borobudur dan puluhan candi-candi yang ada.

  • Tanah dan Rumah di Lingkungan sekitar Njeron Mbeteng kebanyakan telah dimiliki oleh “Bukan Orang Djogja”
  • Mobil dan Motor dengan plat B, H, R dan yang lain semakin membanjiri kota Djogja
  • Dari karakter mengemudi kendaraan dengan mudah dapat ditebak lingkungan si pengemudi kendaraan tersebut B, H, R dan atau non-AB lainnya
  • Pedagang kakilima di Jalan Malioboro mayoritas orang dari luar kota Djogja meskipun mereka menjual souvenier dari Djogja

Piye iki Warga Djogja kok cuek wae karo lingkungane dewe?

Advertisements
This entry was posted in News. Bookmark the permalink.