Djogja Mulai Mahal

Lebaran pada September 2010 sangat mengejutkan saya meskipun saya tinggal 100 meter dari Kraton. Ribuan mobil dan motor dengan huruf dengan B, H, L, W, DK dan semua yang non-AB mulai memadati kota Djogja beberapa hari sebelumnya.

Djogja sekarang telah berubah. Jumlah pendatang mulai meningkat tajam karena Djogja ditempati anak orang kaya dari luar Djogja sehingga daya beli menjadi meningkat. Orang tua mereka tidak lagi membayar kos untuk anak mereka tetapi membelikan rumah di kota kecil tersebut dan sekaligus memberikan mobil untuk transportasi.

Masyarakat luar Djogja yang datang ke Djogja sebagai pedagang tentu bahagia dengan kondisi tersebut dan memasang harga tinggi karena para pedagang tersebut paham dengan daya beli mahasiswa tersebut.

Hari kedua Lebaran agak gerimis di Djogja. Pada saat itu saya muter-muter mencari makanan dan ketemu sebuah warung Bakmi Jawa di kidul Jokteng Wetan. Saya memesan bakmi goreng dan duduk lesehan di tikar yang sudah agak bolong. Diiringi gerimis yang seharusnya menambah nikmat rasa makanan tapi justru rasanya agak aneh

Selesai makan dan minum teh hangat saya berdiri dan bertanya “pinten?” jawab si penjual “kawan welas”. Dalam hati saya “Busyet dah….mahal amat”. Dalam Bahasa Indonesia, Bakmi satu porsi tanpa seledri dan teh hangat satu gelas total Rp 14,000 (Empat Belas Ribu Rupiah).

Saya agak kikuk pada saat membayar karena masih belum hilang rasa kaget mendengar harga makanan tersebut. Setelah transaksi selesai saya jadi semakin yakin bahwa memang begitulah masyarakat di Djogja. Mereka mulai memanfaatkan kondisi Djogja tetapi lupa dan tidak sadar bahwa kebijakan yang mereka terapkan telah merusak atmospher ekonomi dan kenyamanan masyarakat lokal.

Djogja yang dulunya serba murah karena penjual adalah masyarakat lokal yang bijak karena memahami daya beli sesamanya kini semua telah sirna dan menjadi murni bisnis kapitalis.

Swalayan besar di Djogja semakin bertambah banyak. Pedagang dari luar Djogja semakin bertambah banyak karena masyarakat Djogja cukup bersahabat dalam menerima mereka. Perumahan menjamur di  rural area dan POM bensin baru bertebaran di sekitarnya. Sinyal HSDPA sudah tersedia oleh hampir semua cellular provider. Secara teknis infrastruktur sudah terukur layak sebagai kota besar.

Hmmm…..Djogja telah berubah dan bersiaplah untuk menerima konsekuensinya yaitu Social-Wave Fluctuation. Semoga masyarakat pendatang menyadari bahwa tindakan dan kebijakan mereka telah membuat distorsi sosial-ekonomi seperti yang telah terjadi di Tanah Betawi.

Advertisements
This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

2 Responses to Djogja Mulai Mahal

  1. Benar pak Danang, saya juga katut ngrasakne peristiwa seperti itu. Tidak usah menunggu saat lebaran, bisa dimulai dengan lesehan Malioboro. Kemudian warung2 “komplit” yg berada disekitar kampus.
    Silahkan teman2 semua cermati lebih lanjut, sebenarnya yg kebangeten itu dari siapa ya? Apakah para pendatang yg dari ekonomi kelas atas yg siap dengan segala materi-nya… Atau dari penduduk lokal yang belum siap menerima kemajuan keadaan (harga).
    Saya hanya bisa melihat dan berkomentar…. Salam

  2. Another A. says:

    dimana bumi dipijak, di situ langit(-ku) dijunjung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s